Jumat, 09 November 2012

Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Perkembangan Sosial AUD usia TK

A.    Pengertian perkembangan sosial anak usia dini
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang saling berkomunikasi dan bekerja sama.
Pengertian Sosial menurut para ahli:
a)      Hurlock (1978:250) mengutarakan bahwa  Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntunan sosial.
b)     Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk social (zoon politicon). Syamsuddin (1995:105) mengungkapkan bahwa “sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk social”.
c)    Menurut Loree (1970:86) “sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap ransangan-ransangan social terutama  tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya.”
d)   Muhibin (1999: 35) mengatakan bahwa perkembangan social merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.
e)    Syamsu Yusuf (2007)  menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama
f)    Menurut Bandura (Crain:2007;301)  bahwa di dalam situasi sosial kita belajar menangani masalah lewat pengimitasian, yaitu pemahaman yang penuh dari pembelajaran imitatif yang mensyaratkan sejumlah konsep baru. Schneider, Minet, dan Rakhmatunissa dalam Sujiono dan Syamsiatin (2003:61) mengatakan :
1.        sosialisasi adalah suatu proses mental dan tingkah laku yang mendorong seseorang untuk menyelesaikan diri sesuai dengan keinginan  yang berasal dari dalam diri sesuai dengan keinginan yang berasal dari dalam diri sendiri.
2.        Perkembangan sosial adalah suatu proses kemampuan belajar dari tingkah laku keluarganya serta mengikuti contoh-contoh serupa yang ada diseluruh dunia.
Sujiono juga menjelaskan (2003:61) setiap anak akan melalui sebuah proses panjang dalam perkembangan sosialnya yang akhirnya seorang anak akan mempunyai nilai – nilai sosial yang ada dalam dirinya yang disebut proses imitasi, identifikasi dan internalisasi. Berikut bagan proses penanaman sosial menurut Sujiono :
Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial
Perkembangan perilaku sosial anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Anak tidak lagi puas bermain sendiri dirumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan kegiatan-kegiatan dengan anggota-anggota keluarga. Anak ingin bersama teman-temannya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Menjadi orang yang mampu bermasyarakat (sozializ) memerlukan 3 proses. Masing-masing prosesterpisah dan  berbeda satu sama lain, tapi saling berkaitan., sehingga kegagalan dalam suatu proses akan menurunkan kadar sosialisasi individu.
Proses sosialisasi:
1.      Belajar berprilaku yang dapat di terima secara sosial
Setiap kelompok sosial mempunysi standar bagi setiap anggotanya tentang prilaku yang dapat di terima. Untuk dapat bermasyarkat anak tidak hanya harus mengetahui prilaku yang diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan dengan patokan prilaku yang diterima
2.      Memainkan peran sosial yang dapat di terima
Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang dapat di tentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan di tuntut untuk di patuhi
3.      Perkembngan sikap sosial
Untuk bermasyarakat atau bergaul dengan baik anak-anak harus menyukai aktivitas sosial dan orang.

Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses ini, individu akan terbagi kedalam dua kelompok, yaitu kelompok individu social dan individu nonsosial. Kelompok individu social adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok. Adakalanya mereka menginginkan adanya oranglain dan merasa kesepian bila berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu berada dengan oranglain.
Kelompok individu nonsosial, mereka adalah orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok social sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan social. Kadang-kadang mereka tumbuh menjadi individu anti social, yaitu individu yang mengetahui harapan kelompok social, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut. Akibatnya individu anti social ini ditolak atau di kucilkan oleh kelompok social.
Melalui pergaulan anak atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa, dan teman sebaya lainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial. Pada masa anak menurut Syamsu Yusuf, bentuk-bentuk prilaku sosial itu adalah sebagai berikut :
a.       Pembangkangan (negativisme), yaitu bentuk tingkah laku melawan
b.      Agresi (Agresion), yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal).
c.       Berselisih atau bertengkar (quarelling), terjadi apabila anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan perilaku anak lain.
d.       Menggoda (teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari agresif.
e.        Persaingan (rivally)
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak:
1.       Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga;
2.      Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu;
3.       Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah;
4.       Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas.
Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.
B.     Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial AUD
      Menurut Hurlock (1998) factor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak yaitu :
1.       Keluarga
a)      Hubungan antar orang tua, antar saudara antar anak dengan orang tua.
Hubungan anak dengan orangtua ataupun saudara akan terjalin rasa kasih saying, dimana anak akan lebih terbuka dalam melakukan interaksi karena terjalinnya hubungan yang baik yang di tunjang oleh komunikasi yang tepat. Peran orang tua akan membimbing sang anak untuk mengenal lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
b)      Urutan anak dalam keluarga (sulung/tengah/bungsu)
Urutan posisi anak dalam keluarga berpengaruh pada anak misalnya sang anak merupakan anak terakhir maka dipastikan sang anak selalu bergantung pada orangtua dan saudaranya. Jika hal ini terjadi akan berpengaruh pada tingkat kemandirian anak tersebut.
c)      Jumlah keluarga
Pada dasarnya jumlah anggota yang besar berbeda dengan jumlah anggota yang sedikit, maka perhatian, waktu dan kasih saying lebih banyak tercurahkan, dimana segala bentuk aktifitas dapat ditemani ataupun dibantu. Hal ii berbeda dengan anak dengan keluarga yang besar.
d)     Perlakuan keluarga terhadap anak
Adanya perlakuan keluarga terhadap anak prasekolah secara langsung mempengaruhi pribadi dan gerakan sang anak, dimana dalam keluarga tertanam rasa saling perhatian, tidak kasar dan selalu merespon setiap kegiatan anak, maka dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak yang lebih baik dan terarah.
e)      Harapan orang tua terhadap anak
Setiap orangtua memiliki harapan mempunyai anak yang baik, cerdas dan terarah dalam masa depannya. Harapan orangtua adalah mempunyai anak yang memilikiperkembangan sesuai dengan pertumbuhannya. Artinya bahwa perkembangan anak pra sekolah yang sekolah bertujuan mempunyai arah sesuai perkembangannya.
2.       Factor diluar keluarga
a)      Interaksi dengan teman sebaya
Setiap anak jika mempunyai perkembangan yang baik, maka secara alami dapat berinteraksi dengan temannya tanpa harus disuruh atau dditemani keluarga karena anak memiliki arahan yang jelas.
b)      Hubungan dengan orang dewasa diluar rumah
Jika seorang anak selalu bergaul dengan siapa saja maka sang anak dapat menyesuaikan lingkungan orang dewasa dimana anak tanpa malu-malu berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa darinya.
Juga menurut Hurlock:
a.       Kemampuan untuk dapat diterima dikelompok
Anak-anak yang populer dan melihat kemungkinan memperoleh penerimaan kelompok lebih di pengaruhi kelompok, kurang di pengaruhi keluarga dibangdingkan hubungan anak-anak yang pergaulannya dengan kelompok tidak begitu akrab. Anak-anak yang hanya melihat adanya kesempatan kecil untuk dapat diterima kelompok mempunyai motivasi kecil pula untuk menyesuaikan diri dengan standar kelompok
b.      Keamanan karena status dalam kelompok
Anak-anak yang merasa aman dalam kelompok akan lebih bebas dalam mengekspresikan ketidak cocokan mereka dengan pendapat anggota lainnya. Sebaliknya, mereka yang merasa tidak aman akan menyesuikan diri sebaik mungkin dan mengukuti anggota lainnya.
c.       Tipe kelompok
Pengaruh kelompok berasal dari jarak sosial yaitu derajat hubungan kasih sayang diantara para anggota kelompok. Pada kelompok primer  ( antara lain keluarga atau kelompok teman sebaya) ikatan hubungan dalam kelompok lebih kuat dibandingkan dengan pada kelompok sekunder(antara lain kelompok bermain yang diorganisasikan atau perkumpulan sosial) atau pada kelompok tertier ( antara lain orang-orang yang berhubungan dengan anak minsalnya di dalam bus)
d.      Perbedaan keanggotaan dalam kelompok
Dalam sebuah kelompok, pengaruh terbesar biasanya timbul dari pemimpin kelompok dan pengaruh yang terkecil berasal dari anggota yang paling tidak populer.
e.       Kepribadiaan
Anak-anak yang merasa tak mampu atau rendah diri lebih banyak dipengaruhi oleh kelompok di bandingkan dengan mereka yang memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang besar dan yang lebih menerima diri sendiri.
f.       Motif menggabungkan diri
Semakin kuat motif anak-anak untuk menggabungkan diri ( affilation motive) yaitu, keinginan untuk diterima, semakin rentan mereka terhadap pengaruh anggota lainnya, terutama pengaruh dari mereka yang mempunyai status tinggi dalam kelompok.
Factor yang mempengaruhi perkembangan social anak menurut pendapat yang lain adalah:
1.      Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.
2.      Kematangan
Untuk dapat bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.
3.      Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya.
4.      Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
5.      Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak  hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.

            Menurut piaget (1998) menyebutkan bahwa ciri-ciri perkembangan social anak pada umur 4-6 tahun adalah:
a.       Usia 4 tahun
Perkembangan social anak usia 4 tahun yang seharusnya adalah:
1.      Sangat antusias
2.      Lebih menyukai bekerja dengan 2 atau 3 teman yang dipilih
3.      Suka memakai baju orangtua atau oranglain
4.      Dapat membereskan alat permainannya
5.      Tidak menyukai bila dipegang tangannya
6.      Menarik perhatian karena dipuji
b.      Usia 5 tahun
Perkembangan social anak usia 5 tahun yang seharusnya adalah:
1.    Sengan dirumah dekat dengan ibu
2.    Ingin disuruh, penurt suka membantu
3.    Senang pergi ke sekolah
4.    Gembira bila berngkat dan pulang sekolah
5.    Kadang-kadang malu dan sukar untuk bicara
6.    Bermain dengan kelompok 2 atau 5 orang
7.    Bekerjanya terpacu oleh kompetisi dengan anak lain
c.       Usia 6 tahun
Perkembangan social anak usia 6 tahun yang seharusnya adalah:
1.    Mulai lepas dari sang ibu
2.    Menjadi pusatnya sendiri
3.    Sangat mementingkan diri sendiri, mau yang paling benar, mau menang, dan mau yang nomer satu
4.    Antusiasme yang implusif dan kegembiraan yang meluap-luap menular keteman
5.    Dapat menjadi factor pengganggu di kelas
6.    Adanya kecendrungan berlari lepas di halaman sekolah
7.    Menyukai pekerjaannya dan selalu ingin membawa pulang.

C.    Sosialisasi pada anak usia dini 

a)      Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak  awal

Dari umur 2-6 tahun, anak belajar melakukan hubungan sosial dan begaul dengan orang-orang dan bergaul diluar lingkungan rumah, terutama dengan anak-anak yang umurnya sebaya. Masa kanak-kanak awal sering di sebut “ usia pragang” (pregang age) pada masa ini sejumlah hubungan yang dilakukan anak dengan anak lain meningkat dan ini sebagian menentukan bagaimana gerak maju perkembangan sosial mereka. Anak-anak yang mengikuti pendidikan prasekolah melakukan penyesuain sosial yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengikuti pendidikan prasekolah. Karena mereka dipersiapkan secara lebih baik untuk melakukan partisipasi yang aktif dalam kelompok dibandingkan dengan anak yang aktivitas sosialnya terbatas dengan anggota keluarga dan anak-anak dari lingkungan tetangga terdekat. Keuntungan pendidikan pra sekolah adalah memberikan pengalaman sosial dibawah bimbingan guru yang terlatih yang membantu mengembangkan hubungan yang menyenamgkan dan berusaha agar anak-anak tidak mendapat perlakuan yang mungkin menyebabkan mereka menghindari hubungan sosial.  Pola prilaku dalam situasi sosial pada masa kanak-kanak awal: kerja sama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mengasingkn diri sendiri, meniru, prilaku kekuatan.
Ø Hubungan dengan orang dewasa
Dengan berkembangnya keinginan terhadap kebebasan, anak-anak mulai melawan otoritas orang dewasa. Jika mereka telah memperoleh kepuasaan prilaku kelekatan pada masa kanak-kanak, mereka akan terus berusaha membina hubungan yang bersahabat dengan orang dewasa, terutama anggota keluarga.
Ø Hubungan dengan anak lain
Sebelum usia 2 tahun anak kecil terlibat dalam permainan seorang diri atau searah. Sejak umur 3 atau 4 tahun, anak-anak mulai bermain bersama dengan kelompok, berbicara satu sama lain pada saat bermain, dan memilih dari anak-anak yang hadir siapa yang akan dipilih untuk bermain.

Ø Bentuk umum prilaku sosial
Landasan yang diletakkan pada masa kanak-kanak awal akan menentukan cara anak menyesuaikan diri dengan orang lain dan situasi sosial jika lingkungan merekan semakin meluas dan jika mereka tidak mempunyai perlindungan dan bimbingan dari orang tua sejak bayi. Terjadinya peningkatan prilaku sosial akan tergantung pada tiga hal:
·           Seberapa kuat keinginan untuk diterima secara sosial
·                                                            Pengetahuan mereka tentang cara memperbaiki perilaku
·           Kemampuan intelektual yang semakin berkembang dan memungkinkan pemahaman hubungan antara prilaku mereka dengan penerimaan sosial.


b)      Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak akhir
Pada waktu mulai sekolah, anak memasuki usia geng yaitu usia pada saat itu kesadaran sosial berkembang pesat. Menjadi pribadi yang sosial merupakan satu tugas perkembangan yang terutama.  Pada masa transisi dari usia pragang masa kanak-kanak akhir, anak beralih dari satu kelompok ke kelompok lain atau dari aktivitas ke kelompok ke aktivitas individual. Pola prilaku yang dipelajari dari keangotaan gang:
·           Kerentanan (susceptibility) terhadap penerimaan dan penolakan sosial
·           Kepekaan yang belebihan
·           Mudah dipengaruhi dan tidak mudah dipengaruhi
·           Persaingan
·           Sikap sportif
·           Tanggung jawab
·           Wawasan sosial
·           Diskriminasi sosial
·           Prasangka
·           Antagonisme jenis kelamin










DAFTAR PUSTAKA


Hurlock, B. Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga

Satrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga

Seri Ayah Bunda. 1998 . Dari A sampai Z tentang Perkembangan Aud. Jakarta: Yayasan aspirasi pemuda

Rachmawati, Ali Nugraha. 2005. Metode Pengembangan Sosial Emosional.  Jakarta: Universitas Terbuka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar